"Berikan aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia." #Soekarno "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya." #Soekarno "Rawe-rawe rantas malang-malang putung." #Bung Tomo "Robek-robeklah badanku! Potong-potonglah jasadku ini! Tetapi jiwaku yang dilindungi benteng merah putih akan tetap hidup, te…
"Berikan aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia." #Soekarno "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya." #Soekarno "Rawe-rawe rantas malang-malang putung." #Bung Tomo "Robek-robeklah badanku! Potong-potonglah jasadku ini! Tetapi jiwaku yang dilindungi benteng merah putih akan tetap hidup, te…
Hampir tak ada pelagan pennting di negeri ini yang tak didatangi Leonardus Benjamin Moerdani. Sudah berperang sejak usia 13 tahun, ia berada di garis depan penumpasan pemberontakan PRRI/Permesta (1958). Ia juga menjadi ikon pembebasan Irian Barat (1962), tetapi juga terampil di dunia diplomasi dan kepengacaraan. Dia pernah menjadi diplomat di Korea dan memenangkan Indonesia "merebut" harta y…
Mengawali karier militer sebagai serdadu Belanda, Ali Moertopo adalah simpul penting Soeharto dan politik Orde Baru. Dia intel, aktivis, dan politikus ulung. Ali Moertopo membuka jalan bagi kekuasaan Soeharto. Dia meremukkan demokrasi justru ketika Indonesia tengah meninggalkan otoritatianisme Bung Karno. Ia menggelar pelbagai operasi khusus: membabat partai politik untuk membesarkan Golkar,…
"Yang sakit itu Soedirman, tapi Panglima Besar tidak pernah sakit." Pagi itu, 19 Desember 1948, Panglima besar bangkit dan memutuskan memimpin pasukan keluar dari Yogyakarta, mengkonsolidasikan tentara, dan mempertahankan Republik dengan bergerilya. Panglima Besar sudah terikat sumpah: haram menyerah bagi tentara. Karena ikrar inilah Soedirman menolak bujukan Sukarno untuk berdiam di Yogyaka…