"The Great God." he said, "has become one with his father. See the wand of succession. It has declared his choice." The priests, the warriors, the many wives and children, fell upon their knees. Taharka heard again the voice of the sun priest. "Taharka, child of the God, rise." Something cold and smooth was being pressed into his hands. It was the wand of the god. "Take possession of the land…
Membaca Ensiklopedia tokoh-tokoh Wanita, tampaklah bahwa pada abad ke-20 kaum wanita memperlihatkan peran yang jauh lebih besar bagi kemajuan umat manusia di bandingkan dengan pada abad-abad sebelumnya, hal ini antara lain terlihat dari semakin luasnya lapangan kegiatan yang dimasuki kaum wanita pada saat ini. Kaum wanita telah mamasuki ranah politik secara masif, baik kualitatif maupun kuan…
Pangeran Diponegoro, putra Sri Sultan Hamengkubuwono III, adalah pahlawan nasional yang menentang politik busuk kolonial Belanda. Munculnya perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap kolonial Belanda berawal dari penobatan Sri Sultan Hamengkubuwana IV sebagai raja Kesultanan Yogyakarta. Puncak perlawanan Diponegoro ditandai dengan perang gerilya melawan Belanda yang dikenal sebagai perang Jawa. D…
Mengawali karier militer sebagai serdadu Belanda, Ali Moertopo adalah simpul penting Soeharto dan politik Orde Baru. Dia intel, aktivis, dan politikus ulung. Ali Moertopo membuka jalan bagi kekuasaan Soeharto. Dia meremukkan demokrasi justru ketika Indonesia tengah meninggalkan otoritatianisme Bung Karno. Ia menggelar pelbagai operasi khusus: membabat partai politik untuk membesarkan Golkar,…
Sesungguhnya dia punya pilihan gampang dan menyenangkan. Dengan gelar Meester in de Rechten dari Universitas Leiden, ia tak kurang suatu apa untuk menjadi kaya raya dan sejahtera. Namun, Yap Thiam Hien memilih jalan lain. Misalnya: Ketika kantro pengacara lain mengenakan tarif Rp. 40 juta per klien, biaya yang dikutip Yap hanya Rp. 5-10 juta. Tak jarang ia menggrtatiskan jasa kepengacaraann…
Tiga dekade lebih bukanlah waktu singkat bagi seorang presiden mempimpin sebuah negara. Itulah yang dialami oleh soeharto, Presiden kedua Republik Indonesia. Soeharto berada di puncak kempemimpinan selama 32 tahun, yakni sejak 1966 hingga 1998. Pada periode itu, ada semacam kontradiksi yang mencuat ke permukaan. Aura kejawen pun melekati setiap tindak tanduknya dalam memutuskan sebuah kebijakan…