Dewangga dan Laras tumbuh bersama sejak belia, di kampung kecil Banyuwangi yang hangat. Mereka saling menyukai sejak remaja, menyimpan rasa di antara candaan dan tatapan diam-diam. Namun. kisah romansa mereka tidaklah mudah. Bukan karena tak saling mencintai, melainkan karena langit tempat mereka bersujud berbeda arah. Saat larangan orang tua, pandangan masyarakat, dan perbedaan keyakinan memb…
Sesungguhnya tak ada yang benar-benar siap menghadapi kematian. Cerita duka akrab terukir dalam hidup Apta Bayu Cokroaminoto. Dimulai dari kepergian sang ibu yang membuatnya hancur berkeping-keping Kabar kematian semakin akrab mengepung, seperti berdesakan merebut perhatian, mata, pikiran, dan hatinya. Duka kembali hadir saat Tujuh Raga harus berpisah ketika ombak besar Banyuwangi datang men…
Tentang kebahagiaan sebelum peristiwa Tsunami 1994. Di mana keluarga Bapak Purnomo masih utuh dan penuh canda tawa setiap harinya. Meskipun 'Bahagia' yang disematkan di atas masih harus dipertanyakan tetapi di antara rasa sakit yang ada dalam kisah ini, rasanya tidak pantas jika dibandingkan dengan bahagia yang dirasakan oleh ketujuh putra Bapak Purnomo. Tanpa diketahui siapapun, pada tah…
Peristiwa yang menghancurkan seluruh kota dalam waktu singkat. Tujuh raga paling menyedihkan menjadi saksi bagaimana gilanya gelombang pasang malam itu. Malam terakhir penuh bintang, seindah senyuman ibu enam tahun silam. "Apta! Esa! Pegang tangan Mas yang kenceng!" Kalimat itu menjadi kalimat terakhir Khalid sebagai usahanya yang ternyata sia-sia. Semuanya terjadi begitu cepat, air la…
Perihal kematian hanya Tuhan yang tahu. Namun, jika kehilangan karena kematian terus-menerus dihadapkan. Siapa yang berani berteriak 'ikhlas? Gelombang tsunami merenggut lima raga tanpa permisi, berpura pura berterima atas kehilangan adalah hal yang harus Bapak, Khalid, dan Dewangga jalani. Hingga suatu waktu datang sebuah surat yang membuat Bapak sadar jika raga yang hilang yaitu Apta masih h…
Ternyata, dibalik setiap perbuatan, selalu ada balasan. Bapak tidak pernah menyangka jika hidup dalam rasa penyesalan yang begitu besar akan sangat menyakitkan. Dan, justru, sesuatu yang paling menyakitkan itu bukanlah KEHILANGAN karena kematian. Tetapi, saat Bapak harus menjalani hari-hari setelah KEHILANGAN itu sendiri. Hanya dua dari ketujuh putranya yang selamat. Bapak seperti di…